post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label Pojok Jombang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Jombang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Legenda Klasik Kebo Kicak Karang Kejambon

legenda-klasik-kebo-kicak-karang-kejambonJombang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai Kota Santri karena banyaknya sekolah berbasis agama islam atau Pondok Pesantren yakni Tebu Ireng, Mambaul Ma’arif, Darul ‘Ulum, dan Tambak beras, Jombang juga melahirkan tokoh terkenal seperti KH. Hasyim Asyari seorang pahlawan nasional, Mantan Presiden RI KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), serta budayawan Emha Ainun Najib.  Kebo kicak merupakan legenda klasik yang menandai asal muasal atas nama-nama desa yang ada di Kabupaten Jombang seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng, Megaluh, dan Mojongapit.
Terkisah, pada zaman dahulu kala ada seorang  yang bernama Kebo kicak. Karena durhakanya,  dia disabda menjadi manusia berkepala kerbau ( dalam bahasa jawa kebo ) oleh orang tuanya. Kemudian Kebo kicak berguru kepada seorang kyai yang sakti mandraguna hingga akhirnya ia menjadi seorang yang soleh, dia sadar atas segala kesalahanya dimasa lalu hingga memiliki kemampuan yang luar biasa baik dari segi agama maupun kesaktiannya.
Pada suatu masa, Jombang diresahkan oleh seorang perampok sakti mandraguna yang benama Surontanu. Karena kesaktiaanya, tidak ada yang pernah bisa melawan dan menangkapnya. Alkisah, Kebo kicak turun gunung bermaksud hendak menangkap Surontanu. Kemudian mereka bertemu dan bertarung sangat lama sampai Surontanu kewalahan melawan Kebo Kicak dan dia melarikan diri. Kebo kicak pun mengejar Surontanu kemanapun dia pergi. Dan sampailah pelarian Surontanu kesebuah rawa yang terdapat rimbunan tanaman tebu. Dengan kesaktiaanya Surontanu masuk kedalam rawa tebu tersebut dan Kebo kicak pun menyusul kedalam. Akhir cerita, baik Surontanu maupun Kebo kicak tidak pernah kembali lagi hingga sekarang. Entah apa yang telah terjadi hingga sekarang, tidak ada yang tahu. Maka dari tempat menghilangnya Kebo kicak dan Surontanu itulah yang ditandai sebagai asal muasal dari berdirinya Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. begitupun juga nama desa Kalak salah satu yang ada di Jombang itu juga menurut cerita nenek moyang merupakan hasil dari pencarian Kebo Kicak kepada Surontanu yang bersembunyi di perkebunan Salak. Di situ bertemu orang tandak tayub. Saking saktinya Kebo Kicak, Surontanu disabdo Kebo Kicak menjadi Sardulo (manusia berkepala macan). Kini, keduanya adalah manusia setengah hewan.
Pengejaran Kebo kicak terhadap Surontanu untuk memperebutkan Banteng Tracak Kencono juga menjadi jejak-jejak pegejaran yang menorehkan sejarah nama-nama desa hingga saat ini nyata dan menjadi bagian administrasi struktur pemerintahan Kabupaten Jombang. Dibawah ini beberapa nama-nama desa yang menjadi jejak pengejaran itu :
  1. Parimono
Surontanu lari bersama Banteng Tracak Kencono. Tibalah ia di sebuah persawahan nan luas. Kebo kicak datang bersama 9 nawabayangkari. Terkejut melihat Kebokicak, Surontanu mengentakkan tali banteng dan nyasak pepadian yang menghampar. Kebo kicak menggeleng geram menyaksikan itu. Maka lahirlah sebutan Parimono (padi yang disasak hingga rusak).
  1. Mojosongo
Surontanu membuat persembunyian dari akar-akaran, ranting-ranting, dan daun-daun klaras, sementara di sekitarnya dikitari pepohonan maja. Ia membawa panah. Kebokicak datang bersama 9 nawabhayangkari. Pertarunganpun berkecamuk. 9 prajurit Kebokicak binasa oleh panah Surontanu.
  1. Jambu
Surontanu terbirit-birit ke arah barat. Mengikat bantengnya di sebuah pohon jambu milik Ki Dumadi. Belum sempat beristirahat nyenyak, Kebo kicak pun datang.
  1. Jombang
Surontanu lari ke utara. Menemukan kolam. Ada rumah beratap jerami, alang-alang, lalu ada pemandian kerbau. Ada cahaya ijo dan abang dari dasar kolam melesat ke langit dan menebarkan cahaya yang terang cemerlang. Keduanya bertemu dan terjadilah percekcokan. Pertarungan sengit. Surontanu terpukul mundur. Ia lari ke arah timur. Kolam jadi acak-acakan.
  1. Ringincontong
Ada pohon beringin raksasa. Seumpama ada 10 orang mengitarinya dengan membentangkan kedua tangan maka tak bakal mencukupinya. 9 nawabhayangkari dating membantu Kebo kicak. Mereke bertempur lagi. Mereka tak kuasa mengatasi kanuragan Surontanu. Kebo kicak turun tangan. Ia mengeluarkan aji Singo Begandan, dan Bende Tengoro. Surontanu kewalahan. Ia lari ke tenggara.
  1. Sumber Peking
Tampaklah rumbukan pring yang rimbun. Terdengar mata air yang jernih yang menggemericik deras bak bunyi alat peking. Surontanu bermalam di situ, di sebuah rumah seorang janda bernama Nyi Gulah. Kebokicak datang. Namun Surontanu telah pergi ke barat kala terbit fajar.
  1. Mojongapit
Ada sekelompok tayub menggelar pertunjukan. Surontanu masuk ke situ. Menyamar. Lalu muncullah siluman Sardulo Onggo Bliring (berupa macan loreng). Ternyata siluman ini adalah kawan Kebokicak. Si Bliring mencekik Surontanu. Menjepit lehernya dengan kayu randu. Surontanu meronta-ronta. Kebokicak muncul. Bliring terkaget sebentar, dan jepitannya terlepas. Surontanu sedikit dapat bernapas, lalu ia lari lagi ke tenggara.
  1. Sumber Sapon
Di pagi yang mulai terik itu ada seorang janda menyapu halaman rumahnya, ketika Kebo kicak datang dan menanyakan padanya adakah seorang lelaki berbaju hijau lewat di situ. Si janda mengiyakan. Sardulo Onggo Bliring yang mengikuti Kebokicak menyarankan untuk terus mengejar. Mereka bergerak lagi dan singgah di Desa Karang Kejambon. Kebo kicak meminta Bliring untuk jalma menus (menjadi manusia) seperti dirinya. Ini diniatkan Kebo kicak untuk sementara waktu menggantikan posisinya untuk mengatur desanya. Kebokicak meminta penduduk agar atap rumah  mereka dpasangi welit atau daduk tebu. Bliring sendika dawuh atas perintah itu. Kebo kicak bergegas mengejar Surontanu.sambil bersimpuh memeluk mayat Joko Tamping. Kebo kicak tertegun dan sekejap ia tak kuasa bertindak. Cepat-cepat Surontanu kabur ke selatan.
Selain itu, Megaluh yang dulu bernama Watugaluh ini konon ceritanya dikarenakan pertempuran antara Kebo Bang Surowijoyo yang merupakan pendekar tangguh di daerah Watugaluh (Megaluh) melawan Kebo Kicak setelah dimintai pertolongan oleh Surontanu.
Hingga kini nama Jombang tak pelak senantiasa dikaitkan dengan Kebo Kicak. Meski legenda ini tidak banyak terekspos oleh media massa namun nama Kebo kicak selalu menjadi tokoh utama yang senantiasa diingat oleh masyarakat Jombang. Kebo kicak telah menorehkan sejarah di Kabuapaten Jombang dan hingga kini salah satu peninggalan bersejarah dan berdiri kokoh menjadi ikon Jombang adalah RinginConton. RinginContong ialah pohon raksasa yang menjadi tempat persinggahan Kebo kicak dalam pengejarannya terhadap Surontanu dan Banteng Tracak Kencana yang akan dijadikan sebagai tumbal terkait munculnya pageblug atau wabah penyakit yang sulit disembuhkan didaerah padepokan Pancuran Cukir.
Cerita di ambil dari :

Selasa, 12 Maret 2013

Kebudayaan Masyarakat Jombang

Kabupaten Jombang memiliki 21 Kecamatan dengan posisi geografis berada di bagian tengah Propinsi Jawa Timur bersebelahan dengan daerah yang memiliki etnis yang berbeda. Sebelah Timur Kabupaten Mojokerto yang merupakan daerah etnis budaya “arek”, sebelah Utara Kabupaten Lamongan yang mempunyai etnis campuran budaya Jawa Timuran dan pesisir Utara, sebelah Barat Kabupaten Nganjuk dengan budaya Jawa Tengah, sebelah Selatan Kabupaten Kediri juga etnis Jawa Tengah/Panaragan, arah Tenggara Kabupaten Malang merupakan daerah etnis Jawa Timur pesisir Selatan. Oleh karena itu dalam perkembangan peradaban, daerah Jombang tidak luput dari pengaruh wilayah sekitarnya.
Sunarto timur dalam bukunya membagi daerah Jawa Timur berdasarkan wilayah budaya menjadi beberapa wilayah etnis:
1. Etnis Jawa Osing, meliputi eks karsidenan Besuki dan Madura.
2. Etnis Jawa Timuran, meliputi karsidenan Malang, Sidoarjo, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Gresik dan Lamongan.
3. Etnis Jawa pesisir Utara, yaitu Tuban, Gresik dan Bojonegoro,
4. Etnis Jawa pesisir Selatan, yaitu Pasuruan dan Malang Selatan.
5. Etnis Jawa Tengah, meliputi eks karsidenan madiun dan eks karsidenan Kediri.
Dilihat dari letak geografis, Jombang termasuk daerah etnis budaya Jawa Timuran yang mempunyai ragam campuran budaya, yaitu etnis Jawa Timuran atau budaya “arek”, etnis Madura, Panaragan, Mataraman dan etnis jawa Tengahan. Hal ini dapat dilihat oleh banyaknya imigran dari luar daerah yang menetap sebagai penduduk Jombang sejak dahulu, sehingga kebudayaan yang meraka bawa membaur dengan kebudayaan setempat. Sampei saat ini kebudayaan masyarakat Jombang memiliki warna khas yang menunjukkan perbedaan dengan masyarakat berkebudayaan atau etnis Jawa Timur aslinya. Ciri khas kebudayaan masyarakat Jombang tercermin dalam adat-istiadat bahasa dialek dan kesenian mereka.
Adat-istiadat orang Jombang begitu nampak dalam kehidupan masyarakat luar kota, karena masyarakat kota merupakan masyarakat yang sangat sulit untuk dipilah-pilahkan karena percampuran lingkungan heterogen dan pribumi sudah berbaur seiring dengan berkembangnya pola kehidupan jamannya. Namun jika kita memandang lingkungan di daerah luar perkotaan, dapat kita ketahui bahwa masyarakat Jombang merupakan manivestasi budaya masyarakat multi kultural.
Seperti budaya masyarakat didaerah Kecamatan Ngoro, Bareng, Mojowarno, Wonosalam, Jogoroto, Mojoagung, Sumobito, Kesamben secara umum memiliki latar belakang bahasc dialek dan adat-istiadat etnis Jawa Timuran asli/budaya “arek” hal ini ditandai dengan logat bicara yang berciri dengan menggunakan ucapan akhiran …se maupun …tah; contoh: ya’apa se, nang endi se, babah se. iya tah. age tah, wis mari tah dan sebagainya. Kemudian tercermin pada penekanan ucapan kata sifat biasa dipanjangkan, misalnya: adoh menjadi u…adoh. gedhe menjadi gu…edhe, apik menjadi u…apik, ireng menjadi u…irengdan sebagainya.
Berbeda dengan daerah Di Kecamatan Tembelang. Plandaan, Ploso, Kabuh, Kudu. Ngusikan tercemin budaya campuran etnis pesisir Utara, etnis Osing dan Jawa Tengahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kebiasaan dan dialek mereka sehari-hari memakai bahasa budaya kulonan (Jawa Tengahan) dan akhiran …ta; seperti: kowe, kuwi, ora, piye ta, endhi ta dan sebagainya. Anehnya di satu wilayah ini tepatnya di Desa Manduro Kecamatan Kabuh, masyarakatnya mempunyai bahasa dan kesenian Madura.
Di daerah tersebut kehidupan sehari-hari mayoritas sebagai petani padi dan patani tembakau, tetapi meraka juga suka berkesenian, seperti: kesenian ludruk, wayang kulit, dangdut, tayub dan campur sari. Dalam adat-istiadat masih menampakkan adat kejawaannya (kejawen); misalnya: walaupun agama yang dianut adalah agama islam tata cara berbicara, sikap dan tingkah laku dalam pergaulan jika bertamu biasa atau lebih akrab menggunakan kata kula nuwun atau nuwun sewu.
Lain halnya dengan di Kecamatan Megaluh, Perak, Diwek, Gudo dan Jombang bagian Barat di mana mereka memiliki etnis atau budaya campuran Jawa Tengah, Mataraman, Panaragan dan sedikit bercampur dengan budaya Jawa Timuran karena daerahnya berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk, Kediri dan sebelah Timur Kecamatan Jombang adalah Kecamatan Jogoroto. Logat bicaranya-pun campuran budaya Jawa Tengahan/Mataraman dan budaya “arek”; contoh: piye se, ora se, gak mulih ta dan sebagainya. Walaupun pola kehidupan sehari-hari mayoritas sama dengan daerah tersebut diatas tetapi masih terdapat perbedaan, contoh: jenis keseniannya lebih dekat dengan budaya Jawa Tengahan, seperti wayang kulit, wayang krucil. Kuda Lumping jenis Sambaya dan kesenian reog Ponorogo.
Hal lain yang menurut tata bahasa Jawa janggal tetapi sudah menjadi kebiasaan mereka menggunakan tingkatan bahasa karma; misalnya: kula badhe siram, kula sampun dhahar, kula mboten pirsa. Sebaliknya tutur sapa kepada orang lain yang dihormati tata bahasanya di balik; misalnya: bapak sampun nedha, ibu tilem, mbah kesah, dan sebagainya. Mereka menyadari hal semacam itu, tetapi masih tetap dilakukannya karena sudah menjadi kebiasaan hingga turun- temurun sampai sekarang. Sehingga kebiasaan seperti itu disebut salah kaprah, artinya suatu yang tidak benar tetapi dianggap biasa. (Suyanto. 2002:7).
Secara universal masyarakat Jombang menunjukan kepribadian dan kehidupan mayoritas sebagai petani padi, sikap dan pola pikir yang terbuka (blak-blakan). Selain potensi alam yang dimiliki, di Kabupaten Jombang banyak terlahir tokoh yang mewarnai  bumi  pertiwi  baik  di  tingkat  lokal,  regional,  nasional  bahkan diperthitungkan di tingkat internasional. Sehingga sampai sekarang masih bermunculan potensi sumber daya manusia di berbagai bidang, salah satunya bidang seni budaya yang mencerminkan budaya campuran, yaitu budaya Jawa Timuran, Jawa Tengahan, Jawa Pesisir Utara, Jawa Pesisir Selatan, Mataraman, Panaragan dan etnis Osing.
Menurut Ki Sareh, bahwa masyarakat Jombang merupakan wadah dan isi kebudayaan. Maksud kata wadah di sini adalah suatu tempat yang dijadikan penampungan dari berbagai etnis yang datang dan membaur satu dengan yang lainnya. Sedangkan isi adalah para tokoh serta pelaku seni budaya yang sadar akan pelestarian dan perkembangan seni budaya daerah. Sehingga keragaman budaya tersebut sebagai latar belakang seni budaya daerah yang majemuk menjadi kepribadian budaya masyarakat Jombang yang disebut “Gaya Jombangan” (Sareh, wawancara 2004). Di sisi yang lain ada pendapat Drs. Nasrul llah sebagai salah satu budayawan Jombang yang perlu digaris bawahi, karena relitanya Kabupaten Jombang mempunyai beberapa macam bentuk kesenian rakyat, seperti: Besutan, Ludruk, Jaran Kepang Dor, Hadrah, Kentrung, Sandur, Wayang Krucil, Wayang Topeng, Wayang Kulit dan sebagainya; di mana semua itu mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jombang yang memiliki ragam berbeda dengan etnis Jawa Timuran yang lainnya

Sumber: http://jawatimuran.wordpress.com/2012/07/28/kebudayaan-masyarakat-jombang/

Sabtu, 09 Maret 2013

Kesenian Besutan Jombang

Budaya yang asli dilahirkan di Jombang yang terancam tenggelam, karena perkembangan zaman. Dan dulu sempat jadi ikon kesenian kota Jombang dan menjadi cikal bakal kesenian ludruk yang juga di lahirkan di Jombang, besutan namanya.

Kesenian besutan ini merupakan kesenian tradisional yang di kembangkan dari kesenian amen atau kesenian yang dimainkan dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainya yang bernama lerok.

Kesenian tradisional yang bernama besutan ini menceritakan atau menggambarkan tentang masyarakat yang hidupnya terbelenggu, terjajah, terkebiri, dibutakan, dan hanya boleh berjalan menurut apa kata penguasa

Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata beto maksud atau biasa kita mengucapkan mbeto maksud dan kalau di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah membawa pesan. Jadi kesenian tradisional besutan atau lebih tepatnya teater tradisional besutan tersebut dalam penampilanya selalu menceritakan ketertindasan masyarakat karena ketidakadilan atau keangkuhan penguasa. dan itu pesan yang selalu ingin disampaikan besut kepada para penguasa.

Dan sebenarnya besutan ini pada awalnya diperankan dimainkan oleh satu orang saja atau dalam bahasa seninya bernama monolog. Dan besut sendiri mencerminkan tokoh laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni, dan seiring perkembangan jaman pada waktu itu berubahlah besutan ini bukan lagi menampilkan satu pemain atau melainkan di tambah dengan beberapa pemain. seperti Besut sendiri sebagai tokoh utamanya, Rusmini yang cantik gemulai, Man Gondo yang selalu memperankan tokoh jahat sebagai musuhnya lakon atau biasa disebut antagonis dan sekaligus pamanya rusmini, Sumo Gambar yang selalu mederita karena cintanya bertepuk sebalah tangan karena cintanya selalu bertepuk sebelah tangan sehingga menjadikanya antagonis. Dengan tema apa pun lakon atau ceritanya, bumbu cinta segitiga antara Rusmini, Besut, dan Sumo Gambar selalu menjadi penyedapnya.

Dan itulah sedikit gambaran yang diceritakan dalam teater tradisional yang di lahirkan di kota santri. Dan hanya ingin mengingat-ingat kembali kalau Jombang kota santri mempunyai kesenian yang perlu dijaga dan di lestarikan sampai akhir hayat nanti.
Sumber: http://anggy10038.blogspot.com/2011/05/kesenian-besutan-jombang.html

Kamis, 07 Maret 2013

Riwayat Jaran Dor Jombangan

Kesenian tradisional jaran dor sudah ada di Jombang sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1925 berdirilah grup jaran dor di Desa Kemambang, Diwek, beranggotakan 14 orang. Saat ini, dari sejumlah itu, hanya tersisa satu, yaitu Yasmo (usia 106 tahun) warga Desa Jatirejo Barat.

Jaran dor merupakan kesenian tradisional Kuda Lumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik jidor yang saat ditabuh berbunyi dor, sehingga jaranan ini di sebut jaran dor. Adapun alat musik selain jidor adalah kendang dan sepasang kimplung yang terdiri dari tiga biji dengan ukuran berbeda. Satu yang berukuran besar di sebut thong, dan yang kecil disebut ketipung. Sekarang, alat musik jaran dor di tambah gong peking saron ketuk kenong atau biasa di sebut dengan gamelan.

Jaran dor ditampilkan dengan beberapa tari pengiring, yang sekarang ditambah dengan tari bantengan. Urutan penampilannya adalah tari bapangan, tari jaranan khas Jombang, tari topeng atau tari humor, tari jepaplok dan ditutup dengan tari bantengan.

Tari Bapangan
Dulu tari bapangan di sebut tari pentulan, karena topeng yang di pakai penari berhidung sangat besar, mentul, bermata bulat dengan rambut, alis dan kumis menjuntai ke bawah yang terbuat dari surai buntut sapi.


Tari Jaranan Khas Jombang
Tari jaran dor lebih mengarah untuk kesenangan atau hobi, tidak seperti jaranan lain seperti semboyo yang memang sengaja dirancang untuk pementasan dengan kemasan cukup rapi. Sehingga penampilan para penari jaran dor terkesan apa adanya dan gerak para penarinya pun tidak seperti jaranan lain. Tari jaran dor banyak dipengaruhi oleh pencak silat, karena kebanyakan para penari jaranan adalah pendekar silat.
Penari jaran dor dulu hanya lelaki, tidak seperti sekarang yang ditampilkan oleh penari lelaki dan perempuan, berkaos belang horisontal warna merah putih atau merah hitam, dilapisi baju warna hitam lengan panjang, celana pendek berpleret merah, berkopyah dengan sarung diikatkan pinggang, tanpa gongseng atau kerincingan kaki seperti pada penari semboyo. Saat ini pakaian penari banyak berubah, tergantung selera grup jaranan masing-masing.
Kuda Lumping yang digunakan dalam jaran dor berbeda dengan kudalumping yang digunakan dalam semboyo. Ekor kudalumping jaran dor berbentuk melengkung sedangkan semboyo berujung lancip. Penari kudalumping membawa panthek: sebilah potongan bambu dengan panjang sekisar satu meter. Saat ini penari membawa cambuk, adapula yang sudah dari dulu membawa cambuk. Mulanya tari jaranan hanya diiringi musik dari kendang, kimplung dan jidor, tanpa iringan gendhing-lagu, selanjutnya diiringi gendhing Ijo-ijo dan Suwe Ora Jamu. Saat ini banyak jaran dor diiringi lagu dangdut dan campur sari.


Tari Jepaplok
Disebut tari jepaplok karena mulut dari kepala hewan, terbuat dari kayu, yang mirip dengan kepala naga ini bisa membuka menutup seperti hendak mencaplok. Di bagian belakang terdapat kayu pegangan yang digunakan untuk mengendalikannya. Satu pegangan dipangkal rahang dan yang satu lagi menyatu dengan bagian atas. Pangkal pertemuan kepala dan rahang ini terdapat engsel yang memungkinkan rahang digerakkan naik turun seperti handak mencaplok dan menghasilkan bunyi plok-plok. Kepala hewan ini diikatkan pada kepala, kedua tangan penari menahan dan mengendalikannya. Dari dulu sampai sekarang nama dan bentuk jepaplokan tetap sama.


Tari Bantengan
Mulanya tidak ada bantengan dalam jaran dor, sekarang tari bantengan ditampilkan untuk menutup pertunjukan di mana penari menari dengan topeng kepala banteng.


Tukang Gambuh
Puncak penampilan semua penari di atas ada di tangan tukang gambuh atau yang dikenal dengan pawang. Sebelum tampil pawang harus membakar perapen atau kemenyan untuk mendatangkan perewangan. Pawang berdoa agar saat menampilkan perewangan jangan sampai ada gangguan. Pawang mendampingi penari beraksi dengang membawa cambuk yang berfungsi untuk memasukkan perewangan ke dalam diri penari juga untuk memulihkan kesadaran. Jumlah pawang dalam setiap pertunjukan biasanya bisa mencapai empat orang. Seorang pawang harus mampu seni bela diri dan memiliki keahlian tersendiri yang didapat dengan tirakat.

Saat ndadi (kesurupan), penari akan menuruti semua perintah pawang, dan seorang pawang mampu membaca seberapa besar kemampuan penari untuk ndadi, karena saat ndadi sudah menyangkut keselamatan penari juga para penonton. Sandingan khas yang di makan penari jaran dor maupun tari lainnya adalah dedak. Adapula bunga, rumput, dan pisang. Penari memakan barang berbahaya seperti beling, jika sebelumnya telah diminta penanggap.

Sesaji jaran dor ini seperti tikar baru dari pandan, sisir, kipas, beras, pisang satu tangkep (dua sisir), tampah, dedak, minyak wangi, beras kuning, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, bumbu-bumbu dapur, dan masih banyak lagi. Jika kelengkapan sesaji tidak terpenuhi, maka akan sangat mengkhawatirkan penampilan jaran dor, khususnya saat ndadi.

Jaran dor saat ini banyak mengalami perubahan, baik alat musik, pakaian maupun tarinya. Ini terjadi karena ada kecenderungan permintaan masyarakat untuk menampilkan jaranan beserta musik dangdut dan campur sari. Sehinggan banyak mucul jaranan campur sari versi Jombangan yang berpengaruh pula pada penambahan alat musik seperti drum, keyboard, dan simbal.

Selain Yasmo di atas, beberapa orang yang masih bersetia dalam pelestarian seni jaran dor ini adalah Harjo Suyitno (pimpinan grup kudalumping Bunga Sejati, Mojowangi, Mojowarno), Subur (pawang grup kudalumping Turonggo Pudak Arum Pandanwangi, Desa Kwaron), Karsiadi atau Mbah Kempong (Pimpinan grup kudalumping Turonggo Cahaya Muda, di Sukomulyo, Blimbing, Gudo).


Sumber: http://jallazim.blogspot.com/2009/03/seni-budaya-jombang.html

Senin, 25 Februari 2013

Kedung Cinet

Kedung Cinet terletak di antara hutan yang menghijau dengan aliran sungai yang jernih dan bebatuan alami. Benar-benar kondisi alam yang menyenangkan untuk dinikmati. Lokasi Kedung Cinet terletak di desa Pojok Klitih, sekitar 10 km dari jembatan sungai Brantas yang melintas di kawasan Ploso, kabupaten Jombang. Pengunjung bisa menikmati indahnya pemandangan alam semenjak dari tanggul sungai Brantas hingga jembatan yang mendekati lokasi Kedung Cinet.
Asal usul Kedung Cinet menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat masih ada hubungannya dengan Kerajaan Majapahit. Konon Kedung Cinet adalah tempat peristirahatan para prajurit Majapahit, tempat mandi dan menunggu para wanita kekasih mereka. Hal ini sangat beralasan karena Kedung Cinet sendiri sangat tepat untuk dijadikan lokasi peristirahatan dan melepas lelah.
Jika Anda bertempat tinggal di wilayah Jombang dan sekitarnya, tak ada salahnya sesekali datang kesini. Akses jalan raya ke wilayah Plandaan, Ploso sudah banyak kemajuan.

Minggu, 17 Februari 2013

Jombang Mengadakan Kenduri Durian Sebanyak 2013 Durian


Duren2.JPG

Sebanyak 2013 buah durian ludes jadi rebutan ratusan warga dalam acara Kenduri Duridi lapangan Desa/Kecamatan Wonosalam, Jombang, Minggu (17/2/2013). 
    
Ribuan durian yang ditata pada kerangka bambu berbentuk kerucut mirip gunungan atau tumpeng raksasa tersebut habis diambil ratusan warga dalam tempo singkat, hanya sekitar setengah jam. Yakni mulai pukul 10.20 hingga pukul 10.50 WIB.
    
Begitu Wabup Jombang Widjono Soeparno tiba di lokasi menyertai datangnya kirab 9 gunungan hasil bumi dari 9 desa se Kecamatan Wonosalam, warga mulai berebutan hasil bumi yang dikirab.
    
Sejurus kemudian, panitia yang berada di sekitar gunungan durian membagi-bagikan rambutan dan salak yang mengelilingi tumpeng durian. Ratusan warga yang sejak pagi mengelilingi tumpeng durian lantas merangsek maju.
    
Semula warga masih sabar menerima pembagian durian dari panitia. Namun itu tak berlangsung lama. Sejumlah warga yang tak sabar melompat pagar besi pengaman tumpeng raksasa, dan mengambil sendiri-sendiri durian yang ditata di gunungan. Ulah ini ditiru warga lainnya.
    
Panitia dan pihak keamanan yang tak mampu mencegah akhirnya membiarkan warga memanjat ‘tumpeng’ dan menjarah ribuan durian tersebut. “Yang penting jangan sampai ada kekerasan, dan durian jangan dilempar-lempar karena bisa melukai warga lain,” teriak penitia dari atas panggung hiburan.
    
Dalam waktu sekitar setengah jam, ribuan durian yang semula tertata rapi pada kerangka berbentuk kerucut itu pun ludes. Yang tertinggal hanya kerangka bambu berbentuk kerucut setinggi sekitar 4 meter.
    
Wabup Jombang Widjono Soeparno mengaku senang dengan antusiasme warga. Menurut Widjono, acara ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dari warga Jombang, khususnya petani durian atas panen yang melimpah. 
       
“Pemerintah daerah berharap ini menjadi tradisi tahunan. Sehingga sekaligus mempromosikan potensi di Wonosalam. Mulai potensi wisata, pertanian, peternakan, perkebunan, hingga produk-produk unggulan Wonosalam lainnya," pungkas Widjono. - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/02/17/kenduri-durian-2013-durian-ludes-dalam-setengah-jam#sthash.ZMxdEpAQ.dpuf

Rabu, 13 Februari 2013

Makam Mbah Sayyit Sulaiman, Mojoagung, Jombang

Makam Mbah Sayyit Sulaiman terdapat di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung. Makam ini selain dikenal sebagai tempat bersejarah sekaligus dikeramatkan. Setiap malam Jum’at Legi, selalu dipadati ratusan bahkan ribuan pengunjung. Ada yang hanya berziarah ada pula untuk ‘meminta berkah’.
Keturunan Rasul
Mbah Sayyit Sulaiman adalah keturunan ke-26 Rasulullah SAW. Semasa hidupnya, selain dikenal tekun beribadah, tingkah polah serta lakunya nyaris tidak ada beda dibanding Rasululloh. Dia arif serta bijak, terutama dalam mengambil setiap keputusan. Santun terhadap sesama. Hormat kepada setiap orang yang dijumpainya.
Sebagai ‘trah’ Rasul, Mbah Sayyit Sulaiman selalu menjunjung tinggi kegiatan keagamaan. Setiap kesempatan siar agama, misalnya, dia senantiasa mengedepankan pola seperti yang dilakukan Rasululloh, SAW. Mbah Sayyit juga gemar berziarah ke makam-rnakam para ulama seantero jagad.
Dia wafat pada tanggal 17 Robiul Awal 1193 H atau 24 Maret 1780 M, Jum’at Legi. Ibunya adalah seorang putri Sultan Cirebon. Dia menjabat sebagai Qodli di Kanigoro, Pasuruan. Sewaktu berziarah ke makam waliulloh, Mbah Raden Alif di Desa Mancilan, Mojoagung, dia sakit sampai akhirnya dia wafat di tempat itu juga.
Ziarah dan Berkah Sebelum berziarah di Makarn Mbah Sayyit Sulairnan, sebaiknya peziarah terlebih dahulu ‘pamitan’ ke Makam Mbah Raden Alif. Karena memang kehadiran Mbah Sayyit Sulaiman di Desa Mancilan adalah untuk berziarah ke Makam Raden Alif. Dan sampai sekarang pun hal tersebut dijadikan semacam ‘kultur’.
Menurut juru kunci kultur tersebut semata sebagai penghormatan kepada ‘cikal bakal’ munculnya makam-makam bersejarah di Desa Mancilan. Sementara itu membludaknya peziarah, terutama pada malam Jum’at Legi, berdampak kepada perbaikan kehidupan perekonomian penduduk sekitar. Pasalnya, secara dadakan warga menggelar dagangan dan beragam jenis dengan harga relatif terjangkau.

Source: http://jawatimuran.wordpress.com/2012/05/04/makam-mbah-sayyit-sulaiman-mojoagung-jombang/

Selasa, 12 Februari 2013

Kerajinan Cor Kuningan

Salah satu peluang usaha kerajinan yang masih banyak dijumpai adalah kerajinan cor kuningan. Salah satu tempat yang banyak dijumpai pengrajin cor kuningan adalah Jombang. Pengrajin di Jombang bahkan sudah memasarkan produk cor kuningannya sampai ke Australia, Amerika, dan beberapa negara di Eropa. Pengrajin bahan kuningan ini terdapat di kecamatan Mojoagung, tepatnya di desa Mojokisno Jombang. Sedikitnya terdapat 27 pengrajin di sana. Kapasitas produksi pengrajin cor kuningan di Jombang rata-rata hingga 1 ton kuningan dengan omset mencapai 50 juta perbulan. Profitnya 30% dapat diraih dari usaha ini.



Biasanya pemasaran produk cor kuningan menggunakan sistem pemesanan. Barang dipesan terlebih dahulu untuk kemudian dibuat. Pemesanan bisa dilakukan melalui telephone, dengan pembayaran secara tunai. Biaya pengiriman ditanggung oleh pembeli. Pengemasan produk menggunakan kertas karton tempat telur dari bahan kertas pulp daur ulang dan ditutupi dengan kertas koran atau busa agar tidak lecet maupun patah. Begitulah yang dilakukan pengrajin di Jombang dalam menjalani usaha cor kuningan tersebut.

Senin, 11 Februari 2013

Nasi Pecel Sambal Tumpang Khas Mojowarno


Pedasnya Nasi Pecel Sambal Tumpang Khas Mojowarno Jombang
Nasi pecel sambal tumpang selama ini identik dengan Kota Kediri. Tapi kini ada satu lokasi baru untuk wisata kuliner di Kabupaten Jombang, tepatnya di kecamatan Mojowarno. Beberapa hari lalu saya mencoba makan nasi pecel sambal tumpang di dekat Lapangan Mojowarno. Sebenarnya lokasi jualan nasi pecel tersebut ada dua. Yang pertama di depan Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Lalu yang kedua dekat kantor Camat yang berhadapan dengan Lapangan Mojowarno.
Tempat berjualan nasi pecel tumpang tersebut terbilang strategis, yaitu di dekat pertigaan menuju Mojoagung-Ngoro-Cukir. Konsep jualannya adalah lesehan. Lalu lintas jalan Mojowarno yang tidak terlalu ramai malam itu terasa nyaman. Saya mulai menikmati nasi pecel tersebut. Rasanya sama seperti nasi pecel pada umumnya. Hanya saja nasi pecel tumpang ini lebih pedas. Citarasa pedas dihasilkan dari sambal tumpang karena bumbu pecel yang asli cenderung manis ke gurih.
Berapa harga nasi pecel tumpang di Mojowarno ini? Cukup murah, hanya Rp. 2.500 per porsi. Tapi jangan keburu senang dulu. Ternyata itu cuma permainan harga saja. Harga 2.500 itu hanya nasi dan sayur pecel saja. Sementara lauk lainnya nggak ada. Kalau mau tambah sate telur puyuh harganya Rp. 2.000 per tusuk. Lalu minumnya teh hangat Rp. 2.000 per gelas. Kerupuknya Rp. 1.000. Kalau dihitung-hitung, sekali makan nasi pecel tumpang harganya Rp. 7.500. Ini termasuk lebih mahal dibanding nasi pecel lain di Mojowarno.
Kalau untuk tujuan menambah referensi wisata kuliner jajanan dan makanan rakyat Jombang sih bolehlah mencoba makan nasi pecel sambal tumpang di Mojowarno ini. Tapi kalau untuk makan sehari-hari, kali ini saya nggak recommend. Bandingkan dengan nasi pecel Yu Weni maupun Bakso Nuklir yang lebih enak tapi harganya lebih terjangkau. Hmm, silakan dipilih sesuai selera Anda. Bagi Anda yang nggak suka makanan bercitarasa peda, nasi pecel sambal tumpang ini lewatkan saja dulu.
Ayo jalan-jalan ke Mojowarno!

Source: http://agussiswoyo.net

Sabtu, 09 Februari 2013

Batik Jombang

Tidak semua batik lahir dari Solo dan Yogyakarta. Buktinya, di Kabupaten Jombang juga mempunyai pakaian tradisional tersebut. Bahkan, karena motifnya yang khas, batik yang lahir dari kota santri ini kerap disebut batik Jombangan. Disebut khas, karena motif batik ini hanya ada di wilayah Jombang, Macam Motif Batik jombangan yakni diambil dari relief yang ada di candi Arimbi, Bareng,Jombang. Motif ini juga telah dipatenkan oleh Pemkab Jombang.

Produk batik yang diberi nama Batik Jombangan ini lebih banyak mengandalkan warna-warna alami yang bahan pewarnanya diambil dari bahan sisa (limbah) yang diolah dalam paduan aneka motif khas Jombangan.

Corak Batik Jombangan terinspirasi dari sebuah candi yang ada di kecamatan setempat yakni CANDI ARIMBI, sehingga batik JOMBANGAN
 mempunyai ciri khas dan motif tersendiri yang tentunya berbeda dengan motif dari batik solo atau batik lainya.

Warnanya pun juga mempunyai ciri khas tersendiri yakni perpaduan dari bahan-bahan limbah atau sisa kemudian diolah sedemikian rupa sehingga menjadicorak dan warna yang terkesan alami dan begitu khas.

Ada juga memakai yang lebih alami dan bahannya pun di ambil dari dari beberapa tumbuh-tumbuhan maupun buah-buahan yang ada di alam. sekitar Salah satunya adalah menggunakan kulit rambutan.

Dalam hal produksi batik Jombangan ini, Motifnya nya pun beraneka macam mulai dari motif Arimbi (satu bentuk relief candi Arimbi satu candi di Kecamatan Bareng), motif rumpun tebu hingga motif suasana desa dan berbagai motif khas Jombangan. Harga yang mereka tawarkan pun cukup bervariatif mulai dari Rp.50 ribu hingga Rp.300 ribu tergantung dari motif dan bahannya kainnya.

Adapun kesejarahan dipakainya salah satu relif arimbi sebagai motif batik Jombangan, bukan berangkat dari ide perajin batik. Tetapi konon karena adanya keinginan elite pemerintahan Jombang untuk memperkenalkan keberadaan Candi Arimbi pada masyarakat luas. Bila demikian adanya, maka ada dua pola mengeksplorasi motif batik. Yaitu eksplorasi yang dilakukan pemerintah (top down) serta hasil kreasi masyarakat (bottom up). Dua pola ini nampaknya masih relevan untuk terus dilakukan.


Ini dia penampakanya gan: